TEKAD NU ACEH BANGUN LEMBAGA PENDIDIKAN

images (1)Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Aceh telah melaksanakan Konferensi Wilayah XIII pada 17-18 April 2015. Dari konferensi itu melahirkan beberapa rekomendasi demi meningkatkan kekuatan iman ummat.

Sekretaris SC NU Hardono Asnawi mengatakan, NU Aceh bertekad mendirikan lembaga pendidikan di setiap kabupaten/kota di Aceh seperti universitas. Pastinya, lembaga pendidikan ini akan berbasiskan kepada Islam. “Tetapi kendalanya sekarang adalah mencari lahan seluas lima hektar untuk pembangunan kampus,”katanya kepada Gema Baiturrahman, Rabu (22/4/) di Banda Aceh.

Ia menambahkan, apabila PWNU Aceh mampu menyediakannya, Pengurus Besar NU akan menanggung segala biaya pembangunan universitas tersebut. Ketika lahan sudah ada, surat kepemilikan lahan wajib atas nama NU. Tidak boleh atas nama pribadi.Dikhawatirkan, saat generasi mendatang, ada  pihak yang mengklaim bahwa lahan tersebut milik pribadi.

Kepada pemerintah, NU berharap lahirnya kebijakan supaya menampung guru dayah ke dalam sekolah umum. Bertujuan untuk membangun karakter pelajar Aceh. Aka nada pelajaran khusus membangun karakter siswa. Guru dayah akan bekerjasama dengan guru agama di sekolah bersangkutan.

Sehingga mereka tidak mudah terkontaminasi oleh hal-hal negatif. Terutama yang menyangkut aliran sesat. Ia mengharapkan, program ini berjalan untuk selamanya. “Program ini berlaku untuk semua jenjang pendidikan,”paparnya.

Bagi anak-anak yang akan memasuki Sekolah Dasar,  sertifikat bisa membaca al-Quran harus dilampirkan. Sebagai syarat masuk SD. Namun, sertifikat ini bukan untuk menunjukkan anak-anak lancar membaca al-Quran. Melainkan sekadar bisa membacanya. “Sedangkan yang ingin masuk SMP harus dapat baca kitab jawi,”pungkasnya.

Di samping itu, kata Hardono, pencegahan masuknya aliran sesat ke Aceh termasuk prioritas utama program NU. Pencegahan ini bisa dilakukan dengan menempatkan da’i di daerah perbatasan. Seperti yang telah dilakukan selama ini. Tapi NU meminta kepada pemerintah agar memikirkan kesejahteraan mereka selama berdakwah. Menurutnya, para da’i perbatasan sudah hampir terlupakan.

Daerah perbatasan yang dimaksud seperti Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Singkil, dan Subulussalam. Katanya lagi, daerah dengan angka pengangguran tinggi juga mudah disusupi aliran sesat.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Konferwil NU Aceh Ibnu Sa’dan. Ia mengatakan, pendidikan itu sangat penting. Maka, NU mecoba menggarap sektor pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Sementara itu, Aceh sudah lama dihantui aliran sesat. Kata Ibnu, masuknya aliran ini kebanyakan setelah tsunami melanda Aceh. “Ini tidak bisa terbendung lagi. Apalagi dengan canggihnya teknologi informasi bisa menyampaikan bisa berbagai informasi,”tuturnya. Sehingga, memiliki benteng akidah yang kuat bagi muslim menjadi mutlak.

Dijelaskan, pemerintah sudah menunjukkan sikap serius menangani permasalahan aliran sesat. Keseriusan mereka ditunjukkan dengan membuat program dai perbatasan. Tapi, menurutnya, mencegah aliran sesat merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah saja.

Ibnu turut mendukung supaya syarat masuk SD, harus ada lampiran bahwa anak tersebut bisa membca al-Quran. Katanya, anak-anak merupakan generasi masa depan. Jadi, mereka semenjak dini harus dipersiapkan supaya menjadi generasi berkualitas.  “Pemantapan ilmu agama sangat penting bagi anak-anak,”imbuh Kepala Biro AUAK IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa ini. Zulfurqan